BERITA


Bersikap Tuli dalam Menebar Kebaikan

Oleh

Fitria Novianti, S.Pd.
(Guru SMKN 1 Sukanagara)

Setiap orang mempunyai cita-cita dan keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik dan berkembang dari pada sebelumnya. salah satunya dengan melakukan kebaikan-kebaikan.

Namun, terkadang kita sering terpengaruh oleh perkataan orang yang membuat kita bersikap putus semangat, bahkan bersikap kalah sebelum berperang atau membuat urungnya niatan yang baik itu, padahal kita sendiri belum pernah mencobanya. 

Masih ingatkah dengan cerita motivasi “Katak yang tuli”? Biasanya sering kita dapatkan ketika sedang mengikuti pelatihan atau sejenisnya. Begini ceritanya:

Ada sebuah lomba yang diikuti oleh ribuan Katak. Lombanya adalah menaiki sebuah Menara yang tinggi. Setiap Katak bersiap-siap tidak sabar ingin memulai lomba tersebut, tapi tidak sedikit juga yang merasa bahwa mereka tidak akan bisa menaiki Menara setinggi itu. 

Perlombaan pun dimulai, sampai dihitungan ke-3 setiap Katak mulai lompat menaiki satu persatu anak tangga Menara, teman-teman Katak lain yang tidak ikut lomba ramai bersorak di bawah memberikan dukungan dan banyak pula yang melontarkan sorakan keraguan.    ”Waduuuuh…menaranya sangat tinggi, pasti sulit untuk dicapai”!

Setiap Katak terus berusaha menaiki Menara meskipun sebagian dari teman-temannya telah berjatuhan. Semakin tinggi tangga Menara yang dinaiki, semakin banyak pula Katak yang berjatuhan hingga menyisakan satu ekor Katak yang masih berjuang untuk bisa sampai di puncak Menara.

“tuh…kan! banyak yang gagal. Itu terlalu tinggi, tak mungkin kamu bisa menaikinya!” 
“iya…benar, kamu tidak akan bisa sampai disana, ingat kita hanya seekor Katak. Katak tidak mungkin bisa memanjat setinggi itu”

Sorak keraguan dari bawah Menara terus saja dilontarkan teman-teman nya. Akan tetapi sorakan-sorakan tersebut sama sekali tak dihiraukan oleh satu ekor Katak yang masih bertahan itu, sampai berhasil mencapai puncak tertinggi Menara.

Semua Katak heran, kenapa dia tidak mendengarkan ataupun terpengaruh seruan-seruan tadi. Ternyata setelah diketahui bahwa Katak itu adalah Katak yang tuli sehingga tidak bisa mendengar kata-kata keraguan dari temannya dan berakhirlah cerita tersebut.

Makna dari ceritanya adalah bahwa ketika kita ingin maju, adakalanya harus bersikap tuli terhadap perkataan orang. Perkataan orang yang seperti apa?

Tentunya perkataan yang meragukan kemampuan kita dan memberikan komentar negatif terhadap sesuatu hal positif yang akan kita hadapi atau sedang kita laksanakan.

Hal ini baik kita terapkan ketika kita melakukan kebaikan, karena tidak sedikit pada zaman sekarang orang lebih senang mengomentari orang lain ketimbang mengeavaluasi dirinya sendiri. Nauudzubillah…

Maka dari itu, marilah kita bersikap tuli dan tidak baper (bawa perasaan) untuk perkataan-perkataan yang tidak mengindahkan niatan baik kita, karena Allah maha mengetahui segalanya. 

Semangat dan terus semangat menebarkan kebaikan dan membela kebenaran, seperti hal nya yang dikatakan Umar bin Khattab RA:
“Jika ada seribu orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada seratus orang yang membela kebenaran, aku diantaranya. Jika ada sepuluh orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu dan jika ada satu orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya”.

#fastabiqulkhoirot
****
(admin)


0 Komentar

Kirim Pesan

Hot News

Image

Kenyataan Setelah Lulus SMK

Image

Tahun 2022 Kutemukan Cinta Sejati

Image

Kenapa Guru Kimia?

PROFIL SEKOLAH

Kopi Produk Unggulan SMKN 1 Sukanagara

SMK Pusat Keunggulan

Gebyar Vaksinasi

Statistik Pengunjung

Flag Counter

Kontak

Alamat :

Jalan Raya Mekarsari Km.07 Gunungsari

Telepon :

085724452788

Email :

info@smkn1sukanagara.sch.id

Website :

smkn1sukanagara.sch.id

Media Sosial :